Sastra Imigran dan Emigran Jepang[i]

Mathosi Fujisawa, Nihon University (Dialihbahasakan oleh Kirana Yunita) >>>

Jepang adalah Negara yang dipercaya memiliki ras penduduk homogen. Sampai saat ini, hanya karya-karya sastra yang ditulis dalam bahasa Jepang, oleh penulis Jepang, diterbitkan di Jepang, dan untuk pembaca Jepang lah yang digolongkan, tanpa syarat, sebagai sastra Jepang. Uraian ini pula yang mendasari para cendekiawan bahwa kokubungaku (sastra asli) dianggap sebagai objek yang sah dari penelitian akademik, analisis, evaluasi, dan apresiasi mereka. Untuk sastra, sejauh ini Jepang telah lama dianggap sebagai representan entitas etnis kebangsaan yang berada di luar sengketa dan kebingungan.

Beberapa tahun terakhir ini, bagaimanapun, sebagaimana terlihat, masyarakat Jepang telah tumbuh menjadi kosmopolitan dan mengalami peningkatan interaksi lintas budaya dengan Negara-negara asing dalam jangkauan dan intensitas. Perubahan radikal sosial ini telah mendorong redefinisi dari ‘Sastra Pribumi’ dan menimbulkan minat akademik pada kegiatan sastra asing yang tinggal di Jepang, maupun orang-orang Jepang yang tinggal di luar negeri. Evolusi baru teori sastra modern dan metode komparasi yang diimpor dari Barat membantu untuk memperluas cakrawala sastra Jepang. Sebuah pengkajian ulang tentang sejarah sastra dengan prespektif global tidak bisa tidak mengungkapkan bahwa definisi sastra kebangsaan menjadi lebih kompleks dari sebelumnya, bahkan dalam kasus Jepang.

Sastra Jepang kontemporer secara khusus telah menjadi sangat buram dalam karakter etnis karena perkembangan terakhir seperti mobilitas geografis penulis dan maraknya invasi istilah asing ke iklan, tulisan rutin, dan bahkan percakapan sehari-hari. Fenomena penting ini umumnya diabaikan oleh spesialis sastra asli. Untungnya, masalah sastra Nasional kini telah menarik perhatian penuh para akademisi. Artikel ini berupaya untuk menjelajah ke wilayah yang belum dikaji secara ilmiah dengan tiga tujuan spesifik: 1) Untuk meneliti karya sastra asal luar negeri yang masih berada dalam lingkup tradisional sastra Jepang; 2) untuk mengidentifikasi sastra etnik yang memiliki ciri asal dan karakter yang khas Jepang, tetapi menggunakan bahasa multi-nasional dan dipublikasikan secara luas; 3) untuk menjelaskan isu potensial yang melekat dalam sastra dengan identitas etnik atau nasional ganda yang harus diperlakukan sebagai bagian dari sejarah sastra dari kedua negara yang terlibat. Kurangnya konsensus dalam etnografi sastra di Jepang membuat sulitnya mengklasifikasikan karya-karya etnis dan penulisnya. Makalah ini akan membatasi subjek diskusi untuk karya sastra yang berkaitan dengan hal-hal Jepang, tetapi dipublikasikan di lokasi geografis selain tanah asli dimana penulis lahir atau asal etnis, terlepas dari legalitas kebangsaan mereka. Artikel ini merupakan tahap awal dari proyek yang lebih besar, berurusan dengan masalah-masalah kompleks yang dihadapi dalam menetapkan definisi yang lebih layak untuk sastra asli Jepang. Untuk saat ini, saya akan meneliti berbagai sastra imigran dan sastra emigran: ini telah banyak diabaikan oleh para cendekiawan, tetapi seharusnya diakui dan diberikan tempat yang sebenarnya dalam sejarah sastra Jepang.

Sastra Imigran

Pertama, saya akan memperkenalkan penulis imigran terkenal dalam urutan kronologis. Masing-masing merupakan kelompok yang cukup besar dari orang yang memiliki keadaan yang sama atau kapasitas profesional yang sama yang mengharuskan mereka memperpanjang masa tinggal di Jepang.

1) Bangsawan Naturalisasi: Asada no Murajiyasu

Bakat penyair imigran dari Cina kuno dan semenanjung Korea ini tampak di Kaiſūsō (751), antologi puisi tertua di Cina yang disusun di Jepang dan ôshû (abad ke-8), koleksi tertua puisi asli dalam bahasa Jepang. Selain beberapa referensi biografi, samar ditemukan dalam pengantar dan pasca-naskah untuk puisi mereka. Tidak banyak yang diketahui dari penyiar imigran, tetapi puluhan dari mereka meninggalkan karya hebat yang dicatat dengan nama Jepang disertai dengan peringkat kebangsawanan.

Asada no Murajiyasu, diwakili dalam dua antologi, suatu kehormatan bersama dengan hanya tujuh belas penyair lainnya, termasuk Kaisar Mommu. Puisi Asada nomor 105 pada Kaiſūsō dalam bahasa Jepang dan terdapat “lima karakter” bentuk bait dari tanah asalnya, Cina sebuah notasi yang menggambarkan kesempatan komposisi yang memberikannya umur lima puluh lima, tetepi tidak jelas apakah usia mengacu pada waktu komposisinya atau kompilasi Kaiſūsō. Manyôshû, daftar keempat dari puisi-puisinya ditulis dalam suku kata bahasa Jepang kuno dan dalam bentuk asli tiga puluh satu suku kata, yang pertama tujuh belas yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah genre terpisah haiku. Nomor 885 sangat tajam dalam mengungkap kerinduan yang mendalam: “My body can evaporate / Just like the morning dew. / But I dare not die /in a foreign country. / So much do I long to see my parents!”

2) Pendeta Buddha: Minki Soshun (1261-1336)

Dari waktu ke waktu, Cina mengirim beberapa biksu Buddha atas permintaan pemimpin politik Jepang. Seorang guru yang terkenal, Rinzai Zen, periode Sung, dikenal di Jepang sebagai Mugaku Sogen (1226-1286) diundang oleh Bupati Hōjō Tokimasa, yang kemudian segera membangun Kuil Engaku pada tahun 1282 dan Sogen diangkat sebagai kepala biara. Untuk propagansi Zen, beasiswa untuk orang-orang Cina antara keluarga Hōjō dan samurai bangsawan dalam lingkaran pelayanan Shogun Kamakura, Sogen diberi nama Nasional Master Bukkō (cahaya Buddha) oleh Kaisar Gokogon. Dia meninggal di Jepang. Puisi dan ajaran agamanya dikumpulkan menjadi koleksi sepuluh volume, Record of Bukkô.

Lebih penting lagi dalam hal pemenuhan sastra adalah Minki Soshun, yang juga seorang pemuka agama Rinzai, yang tiba di Jepang pada 1330, dibawah kekuasaan Kaisar Godaigo dan meninggal di Kyoto. Soshun dikenal dengan koleksi enam volume risalah dan puisi dalam bahasa Cina. Soshu dan beberapa cendekiawan Cina lain yang menjadi muridnya, terinspirasi untuk menulis puisi Cina dan memberikan kontribusi besar terhadap berkembangnya “Lima Pegunungan Sastra”, yaitu prosa dan puisi dalam bahasa Cina yang dicetak empat belas kali pada abad ke-18 oleh biarawan Kuil Lima Besar Zen dan oleh orang awam yang belajar di Jepang.

3). Sarjana Yesuit: Joao Rodrigue (1561-1633)

Selama periode penyebaran agama, kedatangan Francisco Xavier pada tahun 1549 sampai dengan pengusiran ulama Barat pada 1614, sejumlah Yesuit Italia dan Portugis meninggalkan tanda tak terhapus tentang sejarah budaya Jepang. Rodrigues datang ke Jepang pada 1577 saat masih remaja. Dibawa ke Serikat Yesus dan tinggal selama tiga puluh tujuh tahun, sampai dekrit pelarangan agama Kristen. Rodrigues hampir sangat lancar berbahasa Jepang. Sebagai konsultan dan penerjemah, ia melayani Toyotomi Hideyoshi (1536-1598), ketika Jepang bersatu, dan Tokugawaleyasu (1542-1616) yang mendirikan keshogunan Tokugawa (1603-1868).

Rodrigues berpartisipasi dalam penyusunan Kamus Jepang-Portugis (1595) dan menulis sebuah buku lengkap tentang tata bahasa Jepang Arte da Lingoa de Iapam (1604-1608), keduanya diterbitkan oleh Christian Press di Nagasaki. Setelah menyelesaikan sebuah buku tata bahasa yang lebih kecil di Macao pada tahun 1620, dia menetap sampai kematiannya dengan menulis Historia da Igreja do Jāpaō. Arte da Lingoa de Iapam adalah karya penting untuk studi sastra imigran, karena kutipan dari lima belas cerita dalam bahasa Jepang yang masih ada atau tidak disebutkan dalam sumber lain. Kutipan Rodrigues mengandung beberapa referensi yang berbeda untuk insiden sejarah yang melibatkan seorang samurai Kristen yang membuktikan bahwa Jesuit Barat dan pengikut asli mereka berkolaborasi dalam penulisan fiksi berbahasa Jepang sebagai sarana penyebaran agama[ii].

4) Misionaris Modern: Jeanmarie Le Maréchal (1842-1912)

Ditahbiskan pada tahun 1866, Le Maréchal kelahiran Perancis ini bergabung dengan Asosiasi Misionaris Asing Paris tiga tahun kemudian. Dari 1870 sampai kematiannya di Jepang. Ia terlibat dalam pekerjaan misionaris yang kebanyakan dilakukan di Nagasaki dan sekitarnya. Dia menyusun sebuah kamus Perancis-Jepang (1904). Sementara itu, dia mendirikan sebuah kelompok sastra di gereja dan membuat kumpulan waka. Dengan bantuan dari teman-teman Jepang, ia menerbitkan beberapa waka tentang tema-tema Kristen sebagai Seiei (Komposisi Suci)

5) Diplomat: Wenceslau de Moraes (1854-1929)

Di masa awal Jepang Modern, beberapa diplomat asing memainkan peran aktif untuk mempelajari dan memperkenalkan budaya Jepang ke Barat. Ada nama George William Aston (1841-1911) yang menerjemahkan Chronicle of Japan dan menulis History of Japanese Literature; Sir Ernest Satow (1843-1929), dan Dr. Philip van Seibold (1796-1866). De Moraesa adalah kasus yang unik, karena meskipun ia tinggal di Jepang selama tiga puluh tahun sampai kematiannya, penerbitan karyanya dilakukan di Portugal. Lahir di Lisbon dan dilatih sebagai ahli biologi, ia tiba di Jepang pada tahun 1898 dan naik ke jabatan Jendral Konsul di Kobe. Dia menikah dengan orang Jepang dan menghabiskan masa tuanya di kota istrinya di Tokushima. Tulisanya berjumlah sekitar dua puluh buku, termasuk yang paling terkenal diantaranya O Bon-Odori em Tokushima yang berlanjut pada O Comercio do Porto pada tahu 1915; Oyone and Koharu (1919), koleksi esai tentang perbandingan budayanya dinamai dengan nama istri dan adik iparnya; O Culto do Chá, yang diterbitkan di Kobe. Keinginannya menulis dalam bahasa Jepang yang sederhana dimulai dengan frase, “Haruskan aku mati….” Dalam sejarah sastra dari Negara asalnya, ia diklasifikasikan sebagai penulis sastra yang memperkenalkan budaya asing. Di Negara yang mengangkatnya, ia dihargai dengan sebuah novel yang dibuat untuk mengenang hidupnya[iii].

6) Profesor: Raphael von Koeber (1828-1923)

Pemerintah Jepang pada periode Meiji (1868-1912) secara aktif merekrut humanis dan ilmuan dari Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa untuk membantu membangun pendidikan tinggi di Jepang dalam upaya mempercepat modernisasi. Diantara para cendekiawan asing, banyak yang meninggalkan warisan yang tak terlupakan dalam sejarah budaya dan intelektual Jepang modern. Von Koeber memiliki beberapa makalah yang ditulis dalam bahasa Jepang, meskipun dengan bantuan beberapa asisten. Lahir di Rusia dengan ayah yang memiliki kebangsaan Jerman, ia diundang untuk mejadi seorang profesor di Universitas Kekaisaran Tokyo pada tahun 1893, dimana ia mengajar fisafat dan estetika sampai kematiannya di Yokohama tiga puluh tahun kemudian. Artikel-artikelnya muncul di jurnal sastra bergengsi antara lain Teikoku Bungaku (Sastra Imperal) dan Shichô (Tren Intelektual). Karya-karya besarnya meliputi Poetry and Music of Ancient Greece dan My View of Japan. Karir mengajarnya dinilai sukses besar dengan kuantitas dan kualitas murid-muridnya yang menjadi pemimpin diberbagai bidang. Yang paling menonjol dari mereka adalah novelis Natsume Soseki yang menulis sebuah memoar tentang hubungannya dengan professor von Koeber.

7) Naturalisasi Barat: Lafcadio Hearn (1850-1904)

Sepanjang sejarah Jepang, jumlah warga asing dari Negara Barat yang menjadi warga Negara Jepang sangat kecil dibandingkan dengan naturalisasi dari Negara Timur, dengan sebelumnya termasuk kasus-kasus yang lebih dramatis, masing-masing dengan caranya sendiri, dari para imam Katolik apostasized pada abad ke-17 hingga penulis Inggris yang sukses pada abad ke-19.

Anak dari seorang dokter militer Inggris dan ibu seorang wanita Yunani, Lafcadio Hearn tiba di Jepang pada tahun 1890 setelah ia menjadi penulis surat kabar dan fiksi di Amerika Serikat. Dia menikahi seorang wanita Jepang dari Matsue, sebuah kota di tepi pantai dan menjadi warga Negara Jepang pada tahun 1895 dengan nama Koizumi Yagumo. Ia mengajar bahasa Inggris dan sastra di sekolah, dimulai dengan SMA Matsue dan berakhir di Universitas Kekaisaran Tokyo. Hearn memproduksi berbagai cerita pendek dan esai. Terinspirasi oleh cerita rakyat dan sastra Jepang klasik yang diceritakan oleh istrinya. Empat kisah supranatural dari bukunya Kwaidan (1904) yang menjelaskan komunikasi mengerikan antara orang mati dan orang yang masih hidup, kemudian dibuat menjadi sebuah film dengan judul yang sama di Jepang, yang disebarkan sampai ke Amerika Serikat. Kompetensinya dalam bahasa Jepang diabaikan, ia hanya menulis dalam bahasa Inggris, tetapi ia masih sangat populer di Jepang karena karya-karyanya telah diterjemahkan dan dipelajari oleh sarjana sastra asli Jepang maupun oleh yang membandingkannya. Hearn meninggal di Jepang.

8) Guru Bahasa: Glenn Shaw (1886-1961)

Lulusan dari University of Colorado, Shaw mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah SMP dan SMA di daerah Osaka (1916-1957) kecuali saat perang, ia juga aktif dalam aktivitas jurnalisme di Jepang sebagai staf asosiasi dari surat kabar Asahi dan penyiar radio JOBK. Ia memainkan peran penting dalam memperkenalkan sastra Jepang ke Barat dengan menerjemahkan karya-karya pemikir, seperti permainan filsafat Kurata Hyakuzō, Priest and His Disciples. Tragedi keluarga Kikuchi Kan, Father Returns. Dan cerita pendek bergenre teka-teki Akutagawa Ryunisuke, Rashōmon. Shaw juga seorang penyair haiku yang terkenal dengan beberapa koleksinya yang diterbitkan di Jepang pada tahun 1957 berjudul Suisen Kani (Kepiting Iris). Pemerintah Jepang memberikan medali  Zuihō tingkat tiga untuk kontribusinya terhadap budaya.

9) Seniman: Leach Bernard (1887-1979)

Lahir di Hongkong, Leach bertemu dengan penyair Takamura Kōtarō di Institut Seni London dan cukup terinspirasi olehnya untuk kemudian datang ke Jepang pada tahun 1909. Ia bergabung ke dalam kelompok sastra yang dikenal sebagai sekolah Shirakaba yang menjunjuang tinggi humanisme Kristen. Selama belasan tahun, Leach bekerja di Jepang untuk menyempurnakan seni keramiknya. Ia dikenal juga sebagai esais yang menerbitkan koleksi memoar bilingual, Jepang dua pada tahun 1966.

10) Campuran Jepang Oriental: Ra Sosanjin (1881-1902)

Anak dari seorang staf kedutaan besar Jepang di Cina dan ibu seorang wanita Jepang, Ra dibawa ke Jepang oleh orang tuanya waktu kecil dan menghabiskan sebagian besar hidupnya yang singkat di Negara Ibunya. Ia bergabung dengan lingkaran sastra yang dipimpin oleh novelis Ozaki Kōyō dan pelopor sastra remaja Iwaya Sazanami. Di bawah pengaruh mereka, Ra menulis Haiku, free verse, cerita pendek, dan sastra remaja. Karya-karyanya tersebut dikontribusikan ke surat kabar terkemuka dan majalah seperti Shōnen Sekai (Dunia Lelaki) dan Nihon. Secara khusus, dia ahli dalam haiku. Koleksi haiku Sosanjin (1949) berisi haikunya yang paing terkenal, “On the water jar, / Ah, the setting autumn sun. / My kitchen.”

11) Naturalisasi Oriental: Tachihara Masaaki (1926-1980)

Tachihara lahir sebagai orang Korea dari orang tua Korea-Jepang. Dia datang ke Jepang pada tahun 1937 dan mengambil jurusan sastra Jepang di Universitas Waseda. Pada tahun 1948, ia menjadi warga negara Jepang dengan nama Yonemoto Masaaki, dengan mengambil nama dari keluarga istrinya. Kemudian ia segera menulis fiksi dengan nama pena ‘Tachihara’. Selama dua puluh tahun terakhir hidupnya cukup produktif. Ia menulis cerita yang diakui banyak orang. Ia dinominasikan untuk penghargaan bergengsi, Akutagawa di tahun 1965 untuk poin Sword yang mengisahkan tentang campuran emosi dari anak yang lahir dari seorang perempuan bangsawan Korea dan Jepang. Pada tahun berikutnya, ia menerima hadiah Naoki untuk sastra popular dengan White Poppies, yang menggali kekosongan manusia modern yang tidak lagi mampu menemukan kasih sejati.

12) Politik Pengasingan: Kyū Eikan (1924-…. )

Setelah lulus dari Universitas Kekaisaran Tokyo dengan gelar di bidang ekonomi. Kyū kembali ke Negara asalnya, Taiwan, pada tahun 1946 dan bekerja pada bank ketika rencananya untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi swasta ditenggelamkan oleh pecahnya kerusuhan anti-Chang Kaishek. Dia melarikan diri ke Hong Kong dan bergerak dalam bidang usaha ekspor-impor. Ia diasingkan ke Jepang pada tahun 1954 dan memulai karir yang sukses sebagai novelis, kritikus keuangan, dan penulis lirik lagu popular dalam bahasa Jepang. Ia memenangkan penghargaan Naoki untuk Hong Kong pada tahun 1955.

13) Penduduk Asing: Li Kaisei (1935-   )

Dari tempat kelahirannya, Sakhalin, Li dibawa ke Sapporo, pulau utara Jepang pada tahun 1947 oleh orang tuanya yang berkebangsaan Korea. Dengan gelar sastra Rusia dari Universitas Waseda, ia menjadi seorang reporter untuk kantor berita Korea di Jepang. Setelah periode penulisan kreatif di Korea, ia beralih ke Jepang dan memenangkan hadiah fiksi Gunzo Writer Prize (1969) dan hadiah Akutagawa untuk Woman Pounding the Fulling Block (1971). Li dikenal bekerja untuk menangani masalah-masalah kompleks yang dihadapi warga Korea yang tinggal di Jepang. Ia secara aktif terlibat dalam gerakan protes terhadap represi pemerintah Korea.

Sastra Emigran

Pindah ke daftar penulis emigran, saya telah memilih orang-orang yang relatif terkenal di Jepang. Mereka dikelompokkan oleh bidang bahasa yang diidentifikasi oleh kategori emigrasi atau kegiatan luar negeri yang mereka wakili dan sedapat mungkin disebutkan dalam urutan kronologis.

1)   Mahasiswa yang disponsori oleh pemerintah: Abe no Nakamaro (701-770)

Seorang pemuda aristokrat, Nakamaro, tiba di Tang, Cina pada 717 dengan rombongan utusan kekaisaran, tetapi ia digariskan untuk tidak pernah kembali ke Jepang. Selama hidupnya, ia melayani Hsüan tsung dan dua kaisar lainnya, kemudian posisi dan pangkatnya terus naik. Berteman dengan penyair penting era puisi Tang seperti Li Po (701-762) dan Wang Wei (701-761), Nakamaro belajar untuk menulis puisi Cina disamping mempelajari waka Jepang. Puisi Cinanya termasuk dalam puisi dari periode Tang dan Superior Flowers of the Literary Garden. Dalam satu antologi puisi di Negara asalnya, One Poem Per Poet of Japan, Nakamaro menyertakan puisi Cina berjudul On Being Sent Home as Imperial Envoy, disusun pada 753 saat ia siap untuk kembali ke rumah pada pemerintahan Hsüan tsung.

Salah satu puisi Jepangnya dibawa kembali (ke Jepang) oleh seorang teman yang kemudian dipertahankan sebagai nomor 406 dalam antologi waka dalam kekaisaran tertua. Kokinshū (905): “Looking up at the heavenly plain, / I can almost see the moon / As it once rose above / Mt. Mikasa back in Kasuga.” Catatan ini diawali oleh sebuah notasi yang disusun selama perjalanan pulang itu, perjalanan tersebut batal ketika kapalnya keluar jalur dan mendarat di pantai Vietnam. Wang Wei menulis sebuah puisi perpisahan pada saat keberangkatan temannya itu, dan saat mengetahui kabar kapalnya yang karam. Li Po meratapi kematian Nakamaro yang dituangkannya dalam puisi.

2)      Keturunan Jepang-Oriental: Su Man-chu (1884-1918)

Su lahir di Yokohama dengan ayah yang berasal dari Cina dan Ibu seorang perempuan Jepang. Setelah lulus dari sekolah tinggi dan kematian ayahnya, ia diadopsi oleh tuan Su untuk kemudian pindah ke Cina. Ia menjadi seorang guru, menerbitkan terjemahan dan menuliskan editorial di koran-koran berita di Cina, yaitu Shanghai People’s Daily. Dia lantas memperkenalkan puisi Byron. Ia pun aktif dalam gerakan revolusioner pada akhir Dinasti Ching. Ia juga terlibat secara serius dalam penulisan kreatif. Novel otobiografinya dalam bahasa Cina menggambarkan kerinduannya akan tanah kelahirannya, Jepang.

3)      Keturunan Jepang-Eurasia: Sadakichi Hartman (1867-1944)

Hanya sedikit keturunan ini dibandingkan dengan keturunan Jepang-Oriental, keturunan Eurasia cenderung lebih cepat menyebar dan fleksibel dalam aktivitas sastra. Hartman lahir di Nagasaki dari ayahnya seorang berkebangsaan Jerman dan Ibunya seorang perempuan Jepang. Setelah menghabiskan masa mudanya di Jerman, ia pindah ke Amerika Serikat. Dia bereksperimen dengan haiku dan waka dalam bahasa Inggris. Kerja kritisnya yang dipublikasikan antara lain Christ (Buddha) Tanka dan Haikai: Japanese Rhythms. Dia diperhitungkan sebagai penulis Jepang-Amerika[iv]. Beberapa informasi biografis tersedia dalam artikel Sadakichi Hartman and Greenwich Village, yang diterbitkan oleh kedutaan besar Amerika di Tokyo[v].

4)      Penyair-Pengembara: Yonejirō Noguchi (1875-1947)

Sejak restorasi Meiji (modernisasi) tahun 1868, banyak pemuda pergi ke Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa dengan alasan untuk mempelajari ilmu kedokteran, ilmu pengetahuan, hukum, filsafat, dan estetika, serta untuk melihat dunia demi kepuasan diri, atau bahkan untuk menjadikan dirinya terkenal. Salah satu orang paling sukses adalah orang yang dikenal di dunia barat sebagai Yone Noguchi. Ia tiba di Amerika Serikat pada 1893 dan bekerja sebagai reporter surat kabar berbahasa Jepang di San Fransisko. Kemudian sebagai seorang mahasiswa, ia tinggal di rumah seorang penyair, Joaquin Miller, di Oakland yang memperkenalkannya kepada puisi berbahasa Inggris. Noguchi kembali ke Jepang pada tahun 1904, dikirim oleh sebuah surat kabar Amerika untuk meliput perang Rusia-Jepang, kemudian dia menjadi professor sastra Inggris di Universitas Keio.

Noguchi menulis dalam dua bahasa, baik bahasa Jepang maupun bahasa Inggris untuk koran Jepang-Amerika dan majalah seperti The New World dan The Lark of San Francisco. Koleksi puisi berbahasa Inggris pertamanya, Seen and Unseen, keluar pada tahun 1896, diikuti dengan Voice of the Valley pada tahun 1897. Walau bagaimanapun, reputasi sastranya baru diakui setelah koleksi ketiganya, From the Estern Sea, yang diterbitkan di London pada tahun 1903 selama perjalanannya ke Inggris. Meskipun tidak sampai dua lusin puisi, ia memperoleh pujian dari Thomas Hardy George Meredith, Arthur Symons, dan Rossetti. Edisi Jepangnya tersedia di tahun yang sama dan banyak menjadi inspirasi penyair pribumi seperti Ishikawa Takuboku (1886-1912) yang segera saja menuliskan salah satu waka terkenal, “On the white sand of the island in the eastern sea, / Drenched in tears, / I play with a crab.” Tulisan Noguchi yang berbahasa Jepang termasuk sebuah koleksi sajak bebas berjudul Man with Two Nationalities (1921). Karya-karyanya yang berbahasa Inggris berjumlah hingga 18 jilid.

5)      Aktivis: Maedakô Hiroichirô (1888-1957)

Selama tinggal di Amerika Serikat (1907-1920), Maedakô menulis fiksi dalam bahasa Inggris. Pada tahun 1910, ketika ia mengetahui sebuah berita dari Jepang tentang pelaksanaan aktivitas politik suatu komplotan yang diduga akan membunuh Kaisar Meiji, ia menerbitkan sebuah cerita pendek The Hangman, dalam sebuah majalah sosialis di Chicago bernama The Coming Nation. Pada tahun berikutnya, sebuah sonata, Descendant of Eve, dan sebuah cerita pendek, Asian League muncul di The Progressive Woman, yang merupakan majalah wanita sosialis yang didirikan oleh Josephine Kaneko, istri seorang sosialis Jepang di Chicago. Karya-karya lain Maedakô termasuk cerita pendek, Twentieth Century (1915 atau 1916), dicetak di publikasi sosialis New York, The International, dan esai kritisnya, The Literary World Today (1916), di New Republic. Ada beberapa kaum intelektual lain yang menulis buku-buku penting dalam bahasa Inggris ketika tinggal di Amerika Serikat, seperti Nitobe Inazô (Bushido: The Soul of Japan, 1900) and Okakura Tenshin (The Book of Tea, 1906), tetapi Maedakô adalah salah satu dari sedikit yang menghasilkan fiksi di luar negeri.

6)      Penulis Issei: Okina Rokkei (1888-1973)

Sejarah sastra orang-orang Jepang-Amerika dengan jumlah yang mengesankan adalah penulis Issei (generasi pertama emigran Jepang), dan kebanggaan mereka akan tradisi masih terlihat di koran-koran Jepang seperti Rafu Shimpō di Los Angeles dan Hokubei Shimbun di New York City. Tetapi hanya sedikit fiksi mereka yang dicetak dalam bentuk buku. Okina adalah penulis yang diperhitungkan diantara para penulis Jepang-Amerika yang menulis dalam bahasa Jepang. Sebagai seorang warga Amerika Serikat (1907-1932), Okina aktif dalam dunia sastra Jepang-Amerika di barat laut Pasifik. Pada tahun 1909, cerita pendek During Our Separation memenangkan tempat kedua dalam kontes fiksi yang diadakan oleh surat kabar Jepang-Amerika, Asahi di Seattle. Berbagai karyanya meliputi esai kritis termasuk, Declaration of Emigrant Literature (1920), dicetak di Nichibei Shimbun. Tahun sebelumnya ia kembali ke Jepang, dan sebuah kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Transplanted Tree diterbitkan oleh asosiasi sastra lokal Jepang-Amerika bernama Ishokuju-sha (Transplanted Trees, Inc.).

7)      Peneliti: Nishiwaki Junzaburō (1894-1982)

Dikirim ke Inggris oleh Keio University untuk belajar bahasa Inggris klasik dan bahasa Inggris abad pertengahan di Oxford University pada tahun 1922-1925. Salah satu puisinya dalam bahasa Inggris, A Kensington Idyll, muncul dalam The Chap Book. Sementara itu di London, ia juga menerbitkan dua kumpulan puisi berbahasa Inggris, Spectrum dan Poems Barbarous. Segera setelah itu, ia kembali ke Jepang untuk mengajar di Keio University. Setelah memiliki pengalaman tentang modernisme di Inggris, ia menyusun antologi pelopor puisi surealis di Jepang pada tahun 1927. Koleksi pertama dari puisi Jepangnya diberi judul dalam bahasa asing, Ambervalia (1933).

Orang Jepang cenderung beranggapan bahwa berpergian ke luar negeri sebagai sarana pelatihan intelektual dan inspirasi estetika. Banyak sarjana dan penulis telah mengubah perjalanan mereka kedalam karya sastra yang unggul. Beberapa novelis bahkan mencoba membuat puisi dalam bahasa asing, seperti Natsume Sōseki dalam bahasa Inggris, dan Nagai Kafū in dalam bahasa Prancis, tetapi mereka hanya mempublikasikannya di Jepang. Berbeda dengan Yone Noguchi dan Nishiwaki, reputasi mereka pertama kali terbentuk di luar negeri dan mengikuti mereka saat kembali ke Jepang.

8)      Memperoleh gelar kesarjanaan: Kazuo Ishiguro (1954-…)

Meskipun lahir di Nagasaki, Ishiguro sudah tinggal di Inggris sejak 1960. Setelah lulus dari University of Kent, ia menerima gelar MA. dan penulisan kreatif dari University of East Anglia. Novelnya, A Pale View of Hills diterbitkan pada tahun 1982 oleh Faber and Faber, Ltd., di London. Jumlah orang Jepang yang tidak hanya belajar, tetapi juga mendapat gelar akademik dari universitas asing meningkat sejak Perang Dunia II berakhir. Ishiguro adalah salah satu dari generasi pasca-perang yang karya fiksinya diterbitkan di luar negeri dalam bahasa asing.

9)      Naturalisasi warga: Masayo Duus (1938-….)

Lulus dari Waseda University, Masayo pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1963. Ia menikah dengan Peter Duus, seorang professor sejarah Jepang yang terkemuka, dan ia pun menjadi warga Negara Amerika Serikat. Meskipun ia tinggal di California, ia menulis dalam bahasa Jepang dan menjadi jurnalis di arena Jepang. Dia memenangkan Kōdansha Cultural Publication Prize pada tahun 1977 untuk karya non fiksinya, Tokyo Rose, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh suaminya sebagai, Tokyo Rose: Orphan of the Pacific (Kodansha International, 1979). Selain laporan investigatif yang muncul di majalah bulanan dan mingguan Jepang, ia juga telah menghasilkan kumpulan esai budaya komparatif yang berjudul Two Countries I Go Home To (1980). Pada tahun 1982, dokumenter ambisius Masayo, The Liberators of Briere, memenangkan penghargaan pembaca Bungei Shunjū. Buku ini adalah cerita lengkap yang komperhensif tentang 442 resimen tempur yang terkenal, The Nisei (generasi kedua Jepang-Amerika) yang diakui sebagai unit dengan jumlah terbesar sebagai korban dalam sejarah tentara Amerika Serikat. Kompetensi trilingual penulis dan metodolofi penelitian Barat, membuat karya non-fiksi ini unggul karena menggabungkan wawancara dengan veteran Nisei dan warga Perancis di sebuah kota kecil dekat Épinal di Pegunungan Vosges yang secara langsung menyaksikan tindakan unit tersebut pada tahun 1944 untuk membebaskan kota mereka dari Jerman. Masayo Duus mungkin memang nama yang paling sukses dan paling terkenal di Jepang yang memberikan nafas baru karena misi mereka untuk mempelajari dan mencatat sejarah dan penyebab emigran Jepang, termasuk dirinya sendiri.

10)   Lahir di Negeri asing: Kiku Yamada (1897-1975)

Kiku lahir di Lyons dari ayah yang seorang diplomat Jepang dan Ibu seorang perempuan Perancis. Ia dibawa ke Jepang pada usia sebelas tahun, lulus dari Sacred Heart Girls’ High School dan bekerja pada The Tokyo bureau of the Associated Press. Setelah itu, tinggalnya berpindah-pindah. 1922-1939 di Perancis, 1949 di Jepang, lalu 1969 di Perancis, dan sisa hidupnya dihabiskan di Swiss. Ia menikah dengan seorang pelukis Swiss pada tahun 1941 dan menjadi warga Negara Perancis bersama dengan suaminya. Karir bilingual sastranya dimulai pada tahun 1924 dengan diterbitkannya novel Sur des Lèvres Japonaises, dengan kata pengantar dari Paul Valéry. Esai dan ceritanya lebih banyak ditulis dalam bahasa Perancis meskipun Kiku sering tampil di media sastra Jepang, misalnya majalah fiksi bulanan Gunzō, contoh karyanya adalah serial Paris Correspondence.

11) Keluarga Emigran: Uchi Fumiko

Tidak banyak yang diketahui tentang Uchi, bahkan tentang usia dan bagaimana ia bermigrasi. Informasi tentang dirinya dikumpulkan dari puisinya yang muncul di surat kabar berbahasa Jepang di Peru. Ia telah lama menjadi penduduk Peru hingga kini dan hidup dikelilingi cucu-cucunya. Baru-baru ini, The Peru Shimpō menerbitkan puisinya “Announcing the dawn, / The rooster’s valiant cr / Breaks the stillness.” Surat kabar Jepang sering menggunakan kolom haiku dan waka yang disumbangkan oleh pembaca dan dicetak. Uchi Fumiko adalah salah satu penyair amatir yang tak diperhitungkan, tetapi turut menjaga agar tradisi Jepang tetap hidup, meskipun ketika ia tinggal di luar negeri.

12) Penduduk tetap: Daigo Masao (1935-….)

Setelah lulus dari Gakushū-in University di Tokyo pada tahun 1960, Daigo pergi ke Brazil untuk mempelajari sejarah emigrasi Jepang dan tinggal untuk membedakan dirinya dalam lingkaran sastra masyarakat Jepang. Ia menyumbangkan banyak cerita pendek ke koran dan majalah Jepang-Brazil. Novelnya The Bay of Saints (1971), mengantarkan ia ke dua penghargaan, The Colonia Literature Prize dan The São Paulo News Award. Daigo juga aktif di Negara asalnya. Bungei Shunjū-sha menerbitkan karya non-fiksinya The Japanese in the Southern Hemisphere. Di 1974, Penghargaan penulis fiksi pendatang baru bulanan Ōru Yomimono diberikan kepada Daigo untuk cerita pendeknya yang berjudul, Ginza and the Southern Cross.

13) Nisei Jepang-Amerika: Toshio Mori (1910-1980)

Mori adalah Nisei pertama yang diakui dalam dunia sastra Amerika, di luar masyarakat Jepang. Terinspirasi oleh Sherwood Anderson dari Winesburg, Ohio, ia menulis cerita pendek yang dengan jelas menggambarkan kehidupan emigran Jepang. Penerbitan bukunya untuk pertama kali dijadwalkan pada tahun 1942, tetapi gagal karena pecahnya perang. Pada tahun 1949, ketika Mori membuat debut terakhirnya dengan Yokohama, California (Caxton Printers, Ltd.), buku ini lantas membawanya ke suatu dukungan yang sangat antusias oleh William Saroyan. Buku ini dianggap menjadi pelopor dalam penulisan cerita pendek berbahasa Inggris yang ditulis oleh seorang penulis Jepang-Amerika. Hal ini kemudian diikuti oleh novelnya yang berjudul Woman from Hiroshima (1978), yang bercerita tentang kehidupan ibu Mori sendiri, dan kumpulan cerita pendek lain, The Chauvinist (1979).

Beberapa saat kemudian, sejumlah penulis Nisei mengikuti jejak Mori. Monica Sone (lahir pada 1919), sarjana dari Case Western Reserve University, yang didesak oleh tetangganya Betty MacDonald untuk menulis sebuah autobiografi Nisei Daughter (Little, Brown, 1953; University of Washington Press, 1976). Seorang veteran dari Amerika Serikat yang bergelar MA dari Colombia University, John Okada (1923-1970) menilis No-no Boy (Charles E. Tuttle Co., 1957; University of Washington Press, 1976), sebuah novel elegi yang mengisahkan dilema kesetiaan terhadap Negara yang membawa seorang lelaki Nisei melakukan aksi bunuh diri. Penderitaan hidup Jepang-Amerika di pusat relokasi tertuang dalam Tule Lake (1979) oleh Edward Miyakawa (lahir 1935). Novel autobiografinya Farewell to Manzanaar (1973) ditulis bersama suaminya yang seorang profesor, James Houston, menceritakan tentang peristiwa menuju pencarian jiwa yang terbebani saat menjadi tahanan Manzanaar dan konfrontasi berdarah antara orang yang sangat setia pada Jepang dan lelaki Nisei yang berharap direkrut oleh militer Amerika Serikat. Novel ini telah dibuat menjadi film televisi di Amerika beberapa tahun yang lalu dan disiarkan secara nasional oleh sebuah jaringan besar di Amerika Serikat.

14)  Kanada Nisei: Joy Kogawa (1935-…)

Setelah mengalami relokasi paksa dari Vancouver segera setelah serangan terhadap Pearl Harbor, Joy kini tinggal di Toronto. Dia membuat debut sastra dirinya sebagai seorang penyair. Dipenuhi dengan citra pedih dan musikalitas kristal telah memperkaya dua koleksi puisinya, The Splintered Moon (1967) dan A Choice of Dreams (1974), dua-duanya diterbitkan di Mc Clelland and Stewart, Ltd di Toronto. Baru-baru ini ia memenangkan penghargaan buku nasional di Amerika Serikat, serta Canadian Literature Award untuk novel Obasan (Toronto: Lester & Orpen Denny s Ltd., 1981). Penghormatan tertinggi yang pernah diperoleh di luar negeri oleh penulis keturunan Jepang, novel ini mengangkat pertumbuhan seorang gadis sensitif yang dipisahkan dari keluarga akibat relokasi, dampak dari pengkhianatan oleh “Negara Ibu”, menghadapi dilema abadi dan paradoks atas kesetiaan menghadapi emigran Jepang dan keturunan mereka.

Studi Sastra Etnik di Jepang

Survey sepintas tentang sastra etnis mengungkapkan bahwa studi sastra emigran telah jatuh jauh di belakang sastra imigran di Jepang. Sejak masyarakat Jepang pertama mengarungi Pasifik ke Amerika Serikat pada tahun 1869 dan ke Brazil pada 1908, populasi emigran membengkak hingga empat generasi, masing-masing telah menghasilkan juru bicara sastra sendiri. Namun, pandangan sastra Jepang di luar negeri hanya sebatas goresan. Dalam beberapa tahun terakhir, fiksi yang ditulis dalam bahasa Inggris oleh penulis fiksi Nisei sudah dipelajari oleh beberapa sekolah sastra Inggris di Jepang. Lantaran sastra emigran di jepang juga merupakan sastra imigran untuk Negara-negara tuan rumah, maka perhatian yang lebih dari kaum akademis di Amerika Serikat dan Brazil, misalnya, lebih hanya sebagai sastra etnis minoritas.

Mungkin kontribusi yang paling berharga dari studi sastra etnis adalah untuk menyangkal mitos populer bahwa tradisi sastra Jepang adalah warisan budaya homogen yang dihasilkan oleh sebuah ras yang berbicara dalam satu bahasa. Sekarang, blok etnis dan budaya utama di dunia menjadi saling terkait melalui perkawinan, suaka politik, adopsi, tur panjang, tugas bisnis, belajar di luar negeri, transfer ide dari Barat, dan masa pertukaran media. Studi sastra Jepang harus tetap melangkah dengan mengadopsi perspektif global dan pendekatan interdisipliner. Tidak ada lagi literatur imigran-emigran yang diabaikan, baik oleh Negara induknya, maupun oleh Negara tuan rumah. Situasi saat ini di Jepang tidak memungkinkan optimisme tersebut. Namun, untuk sarjana sastra asli yang belum menguasai kompetensi dalam bahasa asing dan spesialisasi pada studi Barat, memiliki sedikit ketertarikan pada literatur tentang Jepang. Artikel ini merupakan upaya saya untuk menekankan perlunya visi yang luas tentang “Sastra Internasional atau dunia” dan untuk mendukung pendekatan komparatif tentang studi sastra asli dalam konteks yang lebih luas.

 

 

Catatan:

Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh Prof. Chieko Mulhern. Ini adalah versi yang diperluas dari bahan presentasi saya di Conference of Japan Comparative pada bulan November 1983. Untuk penelitian ini, saya berhutang budi kepada Prof. Owen Aldridge yang telah memberi saya nasihat berharga selama saya tinggal enam bulan di University of Illinois pada tahun 1981, Prof. Yokinori Iwaki dan Masuyaki Akiyama yang telah mendukung dan mendorong saya secara konstan.


[i] Diterjemahkan dari artikel berjudul A Survey of Japanese Immigrant-Emigrant Literature. Artikel ini dimuat di Comparative Literature Studies, Vol. 22, No. 1, East-West Issue (Spring, 1985), pp. 9-22, dipublikasikan oleh Penn State University Press dan dapat diunduh di http://www.jstor.org/stable/40246512.

[ii] Chieko Mulhern, “Cinderella and the Jesuits: An Otogizoshi Cycle as Christian Litera-

ture,” Monumenta Nipponica  (Winter 1979),  pp. 409-447.

[iii] Tsukudajitsuo,  Waga  Moraesu-den (Kawade Shobo Shinsha, 1983).

[iv] Shinoda Satae, “History of Japanese- American Literature,’* The American  Review (No.  14), pp. 64-66.

[v] Ota Saburô”, “Sadakichi Harutoman to Gurinitchi Biregge,” Nichibei Bunkakurya no Haykunen (Tokyo:  U.S. Embassy, 1968).

Iklan

2 respons untuk ‘Sastra Imigran dan Emigran Jepang[i]

  1. Ping-balik: Nuclear War 2011
  2. masda berkata:

    i like this, sangat menambah pengetahuanku tentang orang-orang yang turut berkontribusi dalam kesusastraan Jepang, membuatku jadi penasaran untuk membaca karya-karya mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s